Welcome to CATa, We Provides Services, Fabrication and Constructions. Official Website of PT. Cahaya Anugrah Tama
home about us our activity invstor relations job opportunities site map contact us
leftmenu
company profile
business experience
The Project List
gallery
business unit
CATa News
Links
webmail
News Picture header
Harga BBM Venezuela Termurah di Dunia: Kok, Bisa?
December 22, 2008
Venezuela. Menyebut nama negara yang terletak di belahan ujung utara Amerika Selatan ini, yang ada di benak adalah gejolak revolusi yang seperti tak pernah berhenti. Mendengar nama Venezuela juga tak bisa berpaling dari nama sang Presiden saat ini: Hugo Chavez. Memerintah Venezuela sejak 1998, Chavez dikenal sebagai seorang pemimpin yang penuh kontroversi: dipuja sekaligus dibenci. Kebijakan-kebijakan dalam negeri ataupun internasional tokoh sosialis kiri ini dinilai anti-kemapanan, berpihak pada rakyat, dan jelas-jelas sangat membenci Amerika Serikat dan sekutunya. Kebijakan paling menonjol adalah nasionalisasi aset-aset kekayaan negara seperti sumber daya migas dan telekomunikasi.
Tampuk kepemimpinan nasionalnya hingga saat ini diawali intrik dan drama politik yang terselip berbagai tragedi di dalamnya. Peristiwa Caracazo atau Sacudon boleh dibilang sebagai awal dari sejarah kepemimpinan Chavez di Republik Bolivar Venezuela. Peristiwa demonstrasi terburuk di negaranya pada 27 Februari 1989 yang menewaskan 275 hingga 3.000 rakyat itu bermula dari protes kepada Presiden saat itu Carlos Andres Perez yang berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga 50 persen. Padahal, kala itu, harga BBM di Venezuela adalah yang termurah di dunia. Bayangkan, seliter bensin di negara yang mendeklarasikan kemerdekaan pada 5 Juli 1811 itu sekitar 0,1 bolivar (kurang lebih Rp 372)! Berdasarkan data terbaru yang kami peroleh, saat ini harga bensin di Venezuela ”naik” sebesar US$ 0,05 per liter atau Rp 585 per liter dan masih menjadi harga yang termurah di jagat ini—bandingkan dengan harga bensin di Norwegia (Rp 23.157), Belanda (Rp 23.064), Jerman (Rp 22.227), Belgia (Rp 21.134), atau Prancis (Rp 21.390). Praktis, selama memerintah, Chavez hampir tidak pernah menaikkan harga BBM di negaranya. Kok, bisa?
Jawabannya adalah: bisa saja bila acuan Chavez adalah tragedi Caracazo 1989, gengsi, dan ancaman hilangnya kekuasaan laki-laki kelahiran 28 Juli 1954 ini. Sudah bertahun-tahun rakyat di Venezuela ditimang-timang dengan murahnya harga BBM di negara mereka. “Di Venezuela, harga kebutuhan pokok boleh menjulang naik, tapi bukan bensin.” Demikian kira-kira kesimpulan ungkapan warga di sana. Karena itu, harap maklum bila jumlah kendaraan bermotor (mobil pribadi) di Venezuela termasuk yang terpadat di dunia. Lalu, dari mana hitung-hitungannya sampai-sampai pemerintah setempat bisa membuat harga BBM bak surga bagi para pemakai kendaraan bermotor? Padahal hampir di seluruh Bumi ini harga BBM ramai-ramai bergerak naik.
Salah satu jawabannya adalah subsidi BBM yang gila-gilaan. Untuk menjaga harga BBM tetap rendah, PDVSA, semacam Pertamina-nya Venezuela, mesti menggelontorkan dana sekitar US$ 19 miliar setiap tahunnya! Jadi, dengan predikat 10 besar negara penghasil minyak dan gas terbesar di dunia dan terbesar di Amerika Latin--setiap hari Venezuela mengekspor sekitar 2,8 juta barrel minyak mentah—PDVSA memang masih mampu menutupi dana yang sangat besar itu.   
Di tengah perdebatan dalam negeri soal kebijakan pemerintahan Chavez ini, tak ayal banyak pengamat mengatakan Chavez sedang membuat lubang besar di sektor finansial keuangan negaranya. Semurah apa pun harga BBM, bila harga kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya terus melonjak, memang seperti tak ada artinya. Sejauh ini Chavez memang masih mampu menjaga gengsi dan martabat negaranya di mata dunia internasional dan warganya dengan tetap mempertahankan harga BBM termurah di dunia. Cuma, masalahnya: sampai kapan dirinya dan terutama PDVSA sebagai ”sapi perah” mampu bertahan? (Diolah dari berbagai sumber. Foto: theseminal.com)



more news

Semakin Canggih dan Mudahnya Mendeteksi Sumber Migas
January 6, 2009
Dunia industri minyak dan gas (migas) mesti berterima kasih kepada L. Palmiere, salah seorang penemu seismograf modern. Berkat alat pendeteksi gempa yang diperkenalkan Palmeire pada 1855 itu, kini eksplorasi migas telah memasuki era baru dengan mengandalkan kemampuan teknologi seismik 3 dimensi (3D) dan 4 dimensi (4D). Teknologi ini merupakan pengembangan dari cara kerja seismograf, yang memancark
[read archive]

Features: Pipeline Guerrillas
December 30, 2008
Pipa-pipa minyak merupakan sarana vital pendistribusian dan transportasi produksi migas yang membentang dan mengular menembus batas wilayah, negara, bahkan antar-benua. Dengan biaya yang diperkirakan mencapai US$ 1 juta untuk pembangunan per mil pipa saluran migas, tak mengherankan bila pipa-pipa ini menjadi aset berharga dan sarana vital yang bisa mempengaruhi banyak sektor. Tapi, apa jadinya bil
[read archive]

Harga Premium Kembali Turun
December 15, 2008
Seiring dengan kecenderungan harga minyak mentah dunia yang terus menurun, untuk kedua kalinya pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Setelah per 1 Desember lalu secara resmi harga BBM premium turun Rp 500 dari harga semula Rp 6.000 menjadi Rp 5.500, Senin (15/12/08) pukul 00.00 WIB, pemerintah kembali menurunkan harga premium menjadi Rp 5.0
[read archive]
Welcome to CATa, We Provides Services, Fabrication and Constructions. Official Website of PT. Cahaya Anugrah Tama
Footer