Welcome to CATa, We Provides Services, Fabrication and Constructions. Official Website of PT. Cahaya Anugrah Tama
home about us our activity invstor relations job opportunities site map contact us
leftmenu
company profile
business experience
The Project List
gallery
business unit
CATa News
Links
webmail
News Picture header
Bonanza Minyak Para Eksportir Minyak
June 23, 2008

Kalau saja posisi Indonesia saat ini berada di tengah-tengah era 70-80-an, ketika booming minyak membuat gendut perut rupiah, mungkin kesejahteraan yang hingga kini masih menjadi barang impian bagi seratusan juta rakyat bisa sedikit terealisasi. Kalau saja gelembung-gelembung rupiah itu dulu dikelola dengan baik dan bertanggung jawab. Kalau saja.

Ah, tak usah berkalau saja kalau saja. Ini realita ketika emas hitam begitu dihargai sangat tinggi. Ketika banyak negara di dunia merasakan derita dan mesti prihatin dengan lonjakan harga minyak, di saat itu pulalah negara-negara di kawasan Timur Tengah dan sebagian di wilayah Amerika Utara seperti Brazil atau Venezuela merasakan surga dunia, berkah, atau bonanza atas kenaikan harga itu. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Oman, dan Bahrain yang tergabung dalam negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan Gulf Cooperation Council (GCC) diperkirakan mendapatkan profit berlimpah hingga US$ 350 miliar dari keuntungan penjualan minyak pada tahun lalu. Itu ketika kisaran harga minyak masih di bawah US$ 100 per barrel. Dengan harga yang terus membubung, bisa dibayangkan berapa keuntungan yang didapat negara-negara itu. Taruhlah di kisaran US$ 135 per barrel, maka keuntungan yang diperoleh negara-negara yang dilimpahi kekayaan minyak itu diprediksi mencapai lebih dari US$ 500 miliar! Menurut catatan ekonom Arab Saudi Abdulwahab Abu-Dahes seperti kami kutip dari detikfinance.com Jumat (20/6/08) lalu, pendapatan minyak dan belanja swasta GCC melonjak hingga 2 kali lipat dalam 5-6 tahun terakhir. Dalam buku ”Current Issues in Economics and Finance, Recycling Petrodollars” yang diterbitkan oleh Federal Reserve Bank of New York pada Desember 2006, disebutkan, tahun 2002 penghasilan minyak yang mengalir ke negara pengekspor minyak ditaksir mencapai US$300 miliar. Sementara, pada 2006 diperkirakan naik menjadi US$ 970 miliar.

Dalam laporan Juni ini saja Saudi Jadwa Investment menaikkan proyeksi pendapatan migas Arab Saudi pada tahun ini sebesar US$ 260 miliar dengan patokan harga US$ 90 per barrel. Mereka memprediksi pendapatan Arab Saudi mencapai US$ 1 miliar dari pendapatan minyak per hari dengan asumsi harga minyak di atas US$ 115 barrel. Perkiraan itu dibikin tanpa memperhitungkan tambahan produksi 300 ribu barrel per hari mulai Juli dan sebelum harga minyak mendekati US$ 140 per barrel. Arab Saudi sendiri diperkirakan mengeruk keuntungan minyak US$ 300 miliar pada 2005 dan 2006. Itu baru Arab Saudi.

Tak mengherankan bila kekayaan modal yang kini dimiliki negara-negara di Timur Tengah itu digunakan untuk menanamkan investasi di beberapa negara. Tak terkecuali di Indonesia. Sebut saja sektor telekomunikasi yang kini diincar beberapa perusahaan raksasa asal negeri Jazirah seperti Saudi Telecom Company, Qatar Telecom,  atau Etisalat yang mulai mencaplok beberapa perusahaan seperti XL atau Indosat. Diyakini, langkah ini bakal diikuti oleh sejumlah perusahaan raksasa lainnya dan melebar ke beberapa sektor industri lain. (Diolah dari berbagai sumber. Foto: istimewa)




more news

Minyak Nigeria Kembali Kacau
June 25, 2008
Ketika akhir pekan lalu negara-negara Teluk berkumpul dalam forum Saudi Oil untuk membahas soal harga minyak dunia, Nigeria justru sedang dilanda kegalauan luar biasa. Saat itulah Nigeria, negara penghasil minyak terbesar di Afrika dan keenam di dunia, mencatat rekor produksi minyak terburuk sepanjang 25 tahun terakhir. Serangan kelompok militan Movement for the Emancipation of the Niger Delta (ME
[read archive]

Aksi Bakar-bakaran Juga Menerpa Nepal
June 24, 2008
Kenaikan BBM di sejumlah negara tak urung banyak menuai protes dan mengundang aksi demo dari rakyat setempat. Di Indonesia, demo sejenis malah kerap memakan korban nyawa. Sebut saja Maftuh Fauzi, mahasiswa Universitas Nasional (Unas) yang ikut demo anti kenaikan BBM pada 24 Mei, yang akhirnya tewas pada 20 Juni, menjadi salah satu tumbal dari kebijakan yang tidak populis itu. Belum aksi-aksi lain
[read archive]

Perdanaku: Kapal Baru CATa Group
June 20, 2008
PT Cahaya Anugrah Tama (CATa) melalui PT Inti Segara Services (ISS) melengkapi equipment-nya berupa kapal baru jenis Utility Vessel bernama Perdanaku. Dirancang menggunakan mesin dengan total kekuatan 360 HP, Perdanaku yang mampu mengakomodasi maksimal 4 kru atau anak buah kapal (ABK) ini siap beroperasi di kawasan sekitar sungai di wilayah Kalimantan Timur. Bagian dasar kapal ini adalah flat di b
[read archive]
Welcome to CATa, We Provides Services, Fabrication and Constructions. Official Website of PT. Cahaya Anugrah Tama
Footer